Sekapur Sirih November 2013

IPMG Dorong Pemasaran Obat Beretika

Industri  farmasi memerlukan panduan etika pemasaran obat demi memenuhi prinsip dasar  obat-obatan untuk mengoptimalkan kesehatan dan kualitas hidup pasien.  Namun, belum banyak perusahaan farmasi yang membekali staf, terutama petugas pemasaran, dengan panduan etika pemasaran obat yang jelas dan terperinci.

”Kebanyakan perusahaan masih sebatas menekankan nilai, filosofi, dan aturan internal perusahaan. Padahal, panduan etika pemasaran obat itu amat penting untuk mewujudkan praktik-praktik pemasaran obat yang baik,” menurut Ketua IPMG Luthfi Mardiansyah.

Kode etik pemasaran obat perlu untuk memastikan kebutuhan pasien akan obat tepat guna terpenuhi, sementara hubungan kerja yang profesional dan bermartabat dengan praktisi bidang kesehatan tetap terjaga, kata Luthfi.

”Kode etik pemasaran obat juga penting untuk menghindari unfair competition di antara perusahaan dalam bisnis farmasi yang sangat kompetitif ini,” tambahnya.

IPMG sendiri sudah sejak tahun 2007 menerapkan Kode Etik Pemasaran Produk Farmasi yang mengatur kegiatan promosi produk farmasi dan interaksi tenaga pemasaran dari ke-24 perusahaan anggotanya, yang merupakan perusahaan farmasi internasional berbasis riset yang beroperasi di Indonesia, dengan segenap praktisi bidang kesehatan di Indonesia.

Kode Etik IPMG tersebut diperbarui secara berkala agar sesuai dengan Kode Etik International Federation of Pharmaceutical Manufacturers and Associations (IFPMA), serta dengan mempertimbangkan tantangan dan  perkembangan termutakhir di bidang bisnis dan hukum yang berlaku di Indonesia. Seiring dengan tingginya tuntutan global atas transparansi dalam praktik bisnis, Asian-Pacific Economic Cooperation CEO Summit pada November 2011 menyepakati kode etik yang ideal untuk sektor biofarmasi, yakni The Mexico City Principles for Voluntary Codes of Business Ethics in the Biopharmaceutical Sector untuk diterapkan di 21 negara APEC termasuk Indonesia.  

Secara umum, revisi kode etik tahun 2012 mengikuti Mexico City Principles. Secara khusus, revisi tersebut memberlakukan beberapa aturan yang lebih ketat, termasuk larangan memberikan hadiah dalam bentuk apa pun dengan alasan budaya, yaitu menghormati pekerja kesehatan, termasuk dalam rangka memperingati hari raya keagamaan, pernikahan, ulang tahun, dan pengukuhan jabatan. Seluruh karyawan perusahaan anggota IPMG juga dilarang melakukan promosi produk farmasi secara individu atas alasan apa pun di media sosial mana pun.

Selain mendorong kepatuhan terhadap Kode Etik Pemasaran Produk Farmasi secara internal, IPMG juga giat mendukung upaya penegakkan kode etik pemasaran obat pada skala nasional mau pun internasional, seperti, misalnya, Asia Pacific Pharmaceutical Compliance Congress and Best Practices Forum yang diselenggarakan di Kuala Lumpur pada 10-12 September lalu.

Direktur Eksekutif IPMG Parulian Simanjuntak dalam presentasinya di kongres tersebut mengatakan penerapan kode etik pemasaran obat secara benar penting bagi industi farmasi untuk menjaga reputasi perusahaan dan mengembalikan kepercayaan publik.

”Aturan-aturan mengenai promosi produk dan hubungan kerja dengan profesi kesehatan yang lebih diperketat dalam revisi terbaru Kode Etik IPMG ini diharapkan dapat menepis pandangan negatif masyarakat  mengenai hubungan kerja tidak sehat antara industri farmasi dengan kalangan profesi kesehatan.”

Salah satu upaya untuk memulai penegakan praktik pemasaran obat beretika adalah penandatanganan nota kesepahaman pemasaran obat beretika yang dilakukan oleh Menteri Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia, Ikatan Apoteker Indonesia, dan Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia pada Juni 2007. Namun, hingga saat ini belum nampak upaya untuk melaksanakan isi nota kesepahaman tersebut, terlihat antara lain dari kode etik yang tidak secara berkala diperbarui untuk memenuhi tuntutan global, khususnya negara-negara APEC, atas praktik bisnis etis.

Upaya penegakan praktik pemasaran obat yang beretika selama ini masih terkendala oleh beberapa hal, salah satunya adalah perbedaan persepsi mengenai apa yang boleh dan tidak boleh, yang wajar dan tidak wajar,  dilakukan dalam rangka promosi produk farmasi dan hubungan kerja antara perusahaan farmasi dengan profesi kesehatan. ”Ini khususnya terkait dengan kebiasaan masyarakat kita memberi sesuatu sebagai ungkapan selamat, terima kasih, menghargai atau menghormati satu sama lain, baik pada saat-saat khusus maupun sekedar silaturahmi. Kebiasaan ini tidak bisa diterapkan dalam hubungan kerja dengan profesi kesehatan, apalagi dalam rangka promosi produk, karena bisa masuk kategori suap,” jelas Parulian.

Ketidakselarasan kode etik industri farmasi lokal nasional dan multinasional mengakibatkan unlevel playing field (ketimpangan) dalam praktik bisnis sektor biofarmasi.  Masalah lain adalah ketiadaan dukungan formal dari otoritas yang berwenang, baik untuk menjalankan bisnis secara beretika dalam industri biofarmasi maupun antara industri dan praktisi kesehatan. Hingga saat ini IPMG terus mendukung penerapan Mexico City Principles dalam kode etik setiap asosiasi sektor kesehatan di Indonesia.

Mengubah kebiasaan praktik promosi dan pemasaran obat untuk lebih beretika dan taat hukum memang tidak mudah. Tetapi, demi mengembalikan kepercayaan publik terhadap industri farmasi dan profesi kesehatan, dan memastikan pasien menerima hak mereka untuk mendapat obat-obatan yang tepat guna, industri farmasi dan profesi kesehatan harus menegakkan praktik pemasaran obat yang beretika, tegas Luthfi.

”Taat pada kode etik pemasaran obat selain melindungi perusahaan farmasi dan pekerja kesehatandari kemungkinan terjerat masalah hukum, juga memberi manfaat positif bagi kelangsungan hidup pasien.” tambah Luthfi.*

Tentang Kami
Sekapur Sirih
Tentang IPMG
Struktur Organisasi
Anggota IPMG
Index | Sekapur Sirih
» 2015
  » April
  » Juni
» 2014
  » Juni
  » Oktober
  » Desember
» 2013
  » Maret
  » Nopember
» 2012
  » Juli
  » Agustus
  » Oktober
» 2011
  » Mei
  » Juni
  » September
November 2013
SuMTuWThFSa
12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Copyright © 2013 International Pharmaceutical Manufacturers Group